Kamis, 21 Juni 2012

Hakikat Manusia Sebagai Da'i

Manusia adalah mahluk yang berarti sesuatu yang diciptakan secara logik dan riil, setiap yang diciptakan tentu ada penciptanya. Dalam islam, pencipta manusia disebut Allah SWT. Pernyataan manusia adalah mahluk dapat diterima oleh manusia dari latar belakang dan tingkat kecerdasan yang berbeda, mulai dari seorang propesor sampai tukang beca sekalipun. (Ki Moesa A. Machfoeld, 2004 : 53)

Dalam al-Quran menampilkan sebutan mahluk Allah SWT yang dibebani menjalankan agama islam sebagai hidayah bagi perjalanan hidupnya. Manusia merupakan mahluk individual yang memiliki kebebasan ikhtiar, kehendak dan tanggung jawab atas perbuatannya sesuai pilihannya. Manusia sebagai mahluk yang diberikan akal dan potensi untuk berbuat baik dan buruk. Manusia juga merupakan manusia yang lupa akan janji pengakuannya bahwa Allah tuhannya ketika dialam ruh sebelum ruh itu bersatu dengan jasad. Manusia merupakan jenis mahluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia juga merupakan mahluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, saling ketergantungan dalam mencapai tujuan hidup dan sebagai maahluk, berbudayua dan berpendidikan.

Manusia menjalani hidup dalam lima jaman atau alam, yaitu Alam ruh, Alam rahim, Alam dunia, Alam barzah, dan Alam akhirat. Kecuali manusia pertama tidak mengalami alam rahim.[30]

Manusia dibekali akal, qalb, ilahm takwa, ilham fujur dan agama islam. Dengan bekal ini manusia diberi amanat ibadah dan hilafah dimuka bumi ini. Dengan amanat ibadah manusia hanya dibenarkan menyembah dan beribadah kepada penciptanya, yaitu Allah SWT dan dengan amanat khilafah manusia bertugas merekayasa kehidupan, merekayasa alam bagi kepentingan manusia dan menegakan tata hubungan antara mahluk dimuka bumi atas dasar kasih sayang dan kedamaian dalam keanekaragaman budaya dan etnik. (Syukriadi Sambas, 1999: 42)

Manusia dengan potensi ruhani yang di milikinya dapat menerima dan menolak syariat islam yang diperuntukan bagi pengaturan dan pedoman kehidupannya sebagai hamba dan khalifah tuhan di muka bumi. Masing-masing aktivitas yang berupa penerimaan dan penolakan tersebut akan memperoleh akibat atau konsekwensi berupa balasan pahala untuk penerimaan dan berupa siksa untuk penolakan.

Manusia yang menerima islam dan memperjuangkannya agar diterima oleh orang lain diatas dasar kebebasan dan tanggung jawab adalah hakekat aktivitas dakwah islam di sepanjang zaman. Tanggung jawab atau amanah ini akan dihadapkan kepada pengadilan (mahkamah), baik tanggung jawab atau amanah. Jika mengacu kepada la-Quran antara lain surat al-Anfal ayat 27, at-Taubah :105.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.”(al- Anfal : 27)

“ Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (at- Taubah : 105)

Manusia memiliki dimensi kejiwaan, dan dalam kejiwaan itu memiliki aspek insting beserta prilaku dan kecendrungannya, dalam hal ini dakwah islam merupakan proses pendayagunaan aspek insting ke arah jiwa yang positif, baik dan benar menurut tuntunan ajaran.

Prilaku lahir manusia pada hakikatnya merupakan ekspresi dan aktualisasi dari prilaku potensi nafs yang dimilikinya, yang memposisikan manusia kearah posisi yang baik dan benar dan kearah posisi jelek dan salah.

Secara ekplisit, al-Quran menyebut adanya tiga jenis nafs[31]:
  • Nafs muthmainnat, yaitu nafsu yang tenang, jauh dari segala keguncangan, selalu mendorong kepada berbuat kebajikan.
  • Nafs ammarat, yaitu nafsu yang selalu mendorong berbuat kejahatan, tunduk kepada nafsu syahwat dan panggilan setan
  • Nafs lawwamat, yaitu nafsu yang belum sempurna, selalu melawan kejahatan tapi suatu saat melakukan kejahatan hingga disesalinya.


Dalam Tarekat Qadariah – Naqsabandiyah ( TQN ), nafs ini ada tujuh jenis, yaitu Nafs Ammarah, Nafs Lawwamah, Nafs Mulhamah, Nafs Mutha’innah, Nafs Radhiyah, Nafs Mardhiyah, dan Nafs Kamilah

Proposisi-proposisi tentang nafs menurut paara filusuf sufi yang dihimpun oleh javad nurbakhsy sebagai berikut (Syukriadi Sambas, 1999 : 49-50):
  • Setiap kali nafs ditekan, ia akan muncul ditempat lain
  • Nafs bersifat bodoh
  • Nafs sebagai sumber perangai tak bermoral dan tindakan tercela
  • Kejahatan nafs timbul apabila dihasut atau menemukan tempat penyaluran
  • Nafs merupakan sarana kemurkaan Allah
  • Nafs seperti penyulut api
  • Nafs adalah berhala
  • Nafs merasa kedamaian hanya dalam kebohongan
  • Daya tarik nafs adalah selubung paling rumit
  • Nafs penghalang menuju Allah
  • Dasar kekapiran terletak dalam pemenuhan hasrat nafs
  • Jika rasa nafs dinikmati, maka nikmat kebaikan tidak akan pernah dirasakan
  • Syrik terselubung adalah bahaya paling tinggi dari nafs
  • Nafs tegak diatas pelanggaran etika
  • Nafs merupakan tertuduh dari setiap kejahatan
  • Nafs selalu menginginkan apa yang selalu dilarang
  • Nafs adalah budak hawa nafsu
  • Nafs bersifat munafik dan penuh kepura-puraan
  • Kebohongan nafs tidak ada habisnya
  • Nafs menganggap dirinya memiliki sifat ketuhanan
  • Nafs bersifat bohong dan egosentris
  • Nafs bersifat tamak, kikir dan tak bermoral
  • Nafs bersifat serakah dan pemalas


Ciri umum dari nafs kualitas rendah menurut al-Quran ada empat :
  • Mudah melanggar apa-apa yang dilarang Allah
  • Menuruti dorongan hawa nafsu
  • Menjalankan maksiat
  • Tidak mau memenuhi panggilan kebenaran.

 Dalam al-Quran terdapat empat kata atau istilah yang digunakan untuk menunjukan manusia.
  • Ins/insan dan unas
  • Basyar
  • Bani adam
  • Dzuriyat adam


Menurut Ahmad Mubarok desain kejiwaan manusia diciptakan tuhan dengan sangat sermpurna, berisi kapasitas-kapasitas kejiwaan, seperti berpikir, merasa dan berkehendak. Jiwa merupakan system yang terdiri dari sub system aql,qalb, basyar, syahwat dan hawa. Aql (akal) merupakan problem solving capacity, yang bisa berpikir dan membedakn yang buruk dan baik.Qalb (hati) merupakan perdana mentri dari system nafsani.Qalbu memiliki otoritas memutuskan suatu tindakan, oleh karena itu segala sesutau yang didasari oleh qalb berimplikasi kepada pahala dan dosa.Basyar adalah pandangan mata batin sebagai lawan dari pandangan mata kepala.Basyar selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran.Basyar adalah cahaya ketuhanan yang ada dalam hati. Syahwat adalah motif kepada tingkah laku,  atau sesuatu yang manusiawi dan netral. Hawa adalah dorongan kepada objek yang rendah dan tercela. (faizah, dan lalu muchsin effendi, 2006: 56)

Dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lain manusia menurut islam memiliki kapasitas yang tinggi, memiliki kecendrungan untuk dekat kepada tuhan melalui kesadarannya tentang kehadiran tuhan yang terdapat jauh didalm alam tak sadarnya. Manusia juga merupakan mahluk yang dimuliakan tuhan dan diberi kesempurnaan dibandingklan dengan mahluk yang lainnya.Al-Quran juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, kemudian setelah sempuran kejadiannya tuhan menghembuskan kepadanya ruh yang diciptakannya.Seperti dalam al-Qur’an surat al-Muminuun:12-14.

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”  (QS. al-Muminuun:12-14)

Dimensi sepiritual atau ruh mengantar manusia untuk cendrung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dan sebagainya.Ia mengantarkan manusia kepada suatu relitas yang maha sempurna yaitu realitas ilahiyah. Para filusuf yunani seperti plato dan aristoteles mengatakan, pada hakikatnya manusia adalah hewan yang dapat berbicara, berpikir dan mengerti. Yang membedakan manusia dari hewan yang lainnya adalah segi kejiwaan yang berupa akal dan pikiran. (faizah, dan lalu muchsin effendi, 2006 : 56)

 

Blogger news

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.